Lirik Dan Kunci Gitar Suara - Hijau Daun
Saya ingin membagikan chord gitar lagu 'Suara' Hijau Daun yang bisa kamu coba mainkan di rumah. Saya gunakan kunci D, lengkap dengan tips peletakan jari agar suaranya lebih merdu saat dimainkan.




















































Analisis Lengkap Lagu Suara – Hijau Daun
Lagu "Suara (Ku Berharap)" adalah single debut yang sangat fenomenal dari band Hijau Daun. Dirilis pada tahun 2008 dalam album Ku Tahu Kau Pergi, lagu ini langsung meledak dan menjadi salah satu anthem kerinduan paling populer di akhir dekade 2000-an.
Suara adalah balada pop Indonesia yang sangat kuat dalam menggambarkan kesepian, penantian, dan harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Lagu ini berbicara tentang seseorang yang ditinggalkan, namun masih bertahan di tempat yang sama, menggantungkan harapan pada satu hal sederhana: ingin didengar, ingin diakui keberadaannya. kerinduan yang tak tertahankan dan harapan putus asa agar "suara" (panggilan hati) sang narator dapat mencapai orang yang dicintai meskipun mereka telah pergi. Lagu ini merangkum perasaan rindu dan ingin kembali bersama.
Genre lagu ini adalah Pop Rock Melayu/Pop Balada Indonesia. Musiknya dibangun di atas melodi yang sederhana namun sangat efektif dalam menciptakan atmosfer melankolis yang dramatis. Vokal Dide yang berkarakter kuat berhasil menyampaikan rasa sakit dan harapan yang mendalam.
Hijau Daun membungkus tema ini dengan harmoni yang sederhana namun efektif, mengandalkan progresi mayor–minor klasik, bass walking halus, serta modulasi emosi yang pelan tapi konsisten. Tidak ada ledakan emosi yang ada hanyalah ketabahan.
1. Pusat Nada & Karakter Harmoni
Lagu ini berpusat pada tonalitas D Mayor. Namun seperti banyak lagu balada melankolis, pusat nada mayor ini terus-menerus ditarik ke wilayah B minor (vi) sebagai minor relatif.
Kombinasi ini menciptakan karakter:
- Mayor yang hangat
- Minor yang sendu
- Harapan yang tidak sepenuhnya mati
Mayor memberi ruang harapan, sementara minor menegaskan kesepian yang terus hadir.
2. Intro: Lingkaran Kesepian
Progresi intro:
D – Bm – G – A
Ini adalah progresi pop paling klasik (I – vi – IV – V), namun justru karena kesederhanaannya, intro ini terasa jujur dan langsung. Tidak ada kejutan—seperti hidup tokoh lagu yang berjalan lurus tanpa perubahan berarti.
Masuknya Bm sejak awal sudah menandakan bahwa cerita ini tidak sepenuhnya bahagia.
3. Verse 1: Kesendirian yang Diterima
Pola verse:
D
Bm
G
A
Verse ini sangat minimalis. Setiap akor diberi ruang, menciptakan kesan kosong dan sepi. D mayor terdengar seperti pernyataan fakta: “aku masih di sini.” Namun segera ditarik ke Bm, menandakan rasa hampa yang menyertainya.
Tidak ada drama dalam harmoni ini—hanya penerimaan sunyi.
4. Verse 2: Bertahan Meski Kehilangan
Pola verse 2 tetap mempertahankan struktur dasar, namun dengan tambahan:
G | D/F# | Em
Pergerakan bass dari G ke D/F# lalu ke Em menciptakan sensasi “melangkah pelan”. Ini menggambarkan usaha tokoh lagu untuk tetap hidup, meski tanpa kehadiran orang yang ia tunggu.
Em (ii) memberi warna reflektif, seolah ia berbicara pada dirinya sendiri.
5. Pre-Chorus: Harapan yang Mulai Terucap
Pola pre-chorus:
Bm – F#m – Em
Bm – F#m – G
Bm – F#m – Em
Bm – A
Pre-chorus memperdalam emosi dengan dominasi akor minor. Ini adalah bagian paling introspektif dalam lagu. Hampir seluruh progresi bergerak di wilayah minor, menunjukkan bahwa harapan masih rapuh.
Akor A di akhir berfungsi sebagai dorongan menuju chorus—sebuah panggilan untuk didengar.
6. Chorus: Ingin Didengar, Ingin Diakui
Pola chorus:
D – A/C# – Bm
G – D – Em
A – F#m – Bm
G – F#m – Em – A
Chorus adalah puncak emosional lagu, namun tetap ditahan. Tidak ada modulasi tinggi atau perubahan tempo drastis. Ini bukan teriakan—melainkan permohonan yang diucapkan dengan suara pelan.
Penggunaan A/C# memberi transisi halus, membuat chorus terasa mengalir tanpa putus, seperti doa yang terus diulang.
7. Relasi Harmoni & Lirik
Harmoni di lagu ini selalu kembali ke Bm, menegaskan bahwa harapan tidak pernah benar-benar terwujud. Namun ia juga selalu kembali ke D mayor—menandakan bahwa tokoh lagu belum menyerah sepenuhnya.
Ini menciptakan konflik emosional yang realistis:
- Masih berharap
- Tapi siap menunggu
- Tanpa kepastian
8. Dinamika Lagu
Dinamika lagu ini stabil dan lembut dari awal hingga akhir. Tidak ada ledakan emosional—ini membuat lagu terasa sangat personal, seperti curahan hati yang tidak ingin didengar banyak orang, hanya satu.
9. Kesimpulan
Suara adalah lagu tentang bertahan dalam kesunyian. Dengan progresi chord sederhana dan harmoni yang konsisten, Hijau Daun berhasil menciptakan balada yang sangat relatable bagi siapa pun yang pernah menunggu tanpa kepastian.
Lagu ini mengajarkan bahwa harapan tidak selalu keras, kadang ia hanya berupa suara kecil yang ingin didengar.
Strumming Rekomendasi
Pola balada standar:
D – D U – U D U
Versi sangat simpel (pemula):
D – (D) – U
(D = ↓ , U = ↑)
(Tanda kurung = pukulan lebih pelan)
Mainkan pelan dan konsisten. Lagu ini hidup dari rasa, bukan dari kekuatan petikan.
